2012/01/01

mempertahankan, tak semudah meraihnya..

Mempertahankan sebuah ritme yang menenangkan (ternyata) membutuhkan banyak energi yang tenaganya begitu sangat berarti dalam menghadapi berbagai macam godaan dan bermacam potensi yang menyimpangkan ritme tersebut. Hal tersebut dapat hampir dipastkan ada, dan selalu menghiasi disetiap usaha seorang manusia yang tengah 'menikmati' saat2 terindah dalam hidupnya.. dimana pelaluan waktunya disepanjang jalan yang menenangkan itu selalu terancam oleh pengintai2 yang sangat tidak sabar ingin membunuh semua kesenangan hakiki tersebut dan berharap kesenangan yang semu sajalah yang berhak untuk dirasakan oleh setiap jiwa manusia.

ya, itulah musuh sebenarnya dalam kehidupan ini, musuh yang harus selalu dianggap sebagai musuh, yang perlakuan atas permusuhan hasru secara tegas diterapkan. perang melawan semua potensi kejelekan!

Bukan sekedar wacana, ini adalah pembuktian!

membuka lembaran baru yang tidak hanya hadir disetiap awal tahun baru akan tetapi disetiap munculnya sebuah inspirasi baru untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tahun dan hari yang baru bukanlah merupakan patokan sesuatu perubahan dan kebaruan. semuanya akan menjadi baru ketika diri ini memang menjadi pribadi yang baru, kapanpun itu.. dia tidak menunggu dengan keharusan datangnya hari esok, pagi hari, malam hari, siang hari, dll.. dia tidak bergantung kapannya akan tetapi dia tergantung kapan jiwa, pemikiran dan tindakan menjadi satu kesatuan sikap yang hadir dalam dirinya.

seiring dengan perjalanan waktu, alangkah begitu seringnya ketika segala teori2x keidealan hanya berakhir di sebatas wacana belaka. betapa dia akan tetap saja menunduk kaku ketika sudah berhadapan dengan dunia luar yang memberikan intervensi yang (memang) Maha Dahsyatnya. sehebat apapun pelatihan dan inspirasi yang diperoleh akan terkubur dengan cepatnya ketika lingkungan luar menaklukkan pribadi lemah ini. oh, mengapa sampai bisa dia dengan mudahnya menaklukkan keinginan untuk berubah itu? mengapa seolah dia sebagai takdir yang menggagalkan usaha pertobatan yang ketika dimulai seolah sudah begitu maksimal, dan ketika mendapati kita kembali gagal dalam menghadapi segala intervensi dunia luar maka ketebalan muka badak atas nurani perbuatan dosapun akan berbanding lurus mengikutinya, naudzubillah..