Jan 3rd 09
Menikmati apa yang layak untuk dinikmati... apa yang seharusnya manusia tau untuk dinikmati..
Malam yang kelam, sunyi senyap dan kicauan jangkrik temani jiwa ini.. Sebelum besok hari disibukkan dengan jadwal yang segudang hingga bertemu malam lagi,terus begitu setiap hari, again and again.. terus menerus hanya seperti itu-itu saja. membosankan.
Mungkin begitulah kira-kira pendapat sebagian orang yang sibuk dengan rutinitasnya. Yang selama bertahun-tahun digelutinya hingga mencapai titik jenuh. kering kerontang. yang didapatkan hanyalah kertas-kertas rupiah yang ditumpuk-tumpuk entah untuk apa.. Padahal hidup ini hanyalah setengah hari saja.. tidakkah mereka mulai berpikir untuk sedikit lebih kreatif dan cerdas dalam menjalani sisa umur ini dengan menyibukkan diri menumpuk bekal hidup di akhirat?? atau bekal tersebut malahan terkuras habis demi melampiaskan nafsu hidup di dunia?
Menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat adalah hal yang berat bagi yang sudah terlena dengan kehidupan duniawi. begitu banyak argumen pembenaran atas apa yang dilakukannya meskipun sebenarnya kadar kebenarannya hanyalah abu-abu. perbuatan apapun dibenarkan saja oleh hati yang kadung berpenyakit. terus-menerus tiap detik tiap hari tiap tahun kehidupan yang dijalaninya hanyalah menggerus kesejatian ruh Sifat-sifat Ketuhanan.
Ketika melihat kilaunya 'keberhasilan' atau 'kesuksesan', sudah memproklaim diri sebagai orang yang hebat dan 'berbahagia'.. Padahal belum tentu. perasaan sudah benar dan merasa sudah tamat dalam berbuat kebaikan sungguh-sungguh akan membuat dirinya menjadi arogan dan menuhankan dirinya sendiri. dialah yang maha benar! sedangkan orang lain hanya dipandang dengan picingan mata kecut. bagus! teruslah sombong manusia! sekalipun kau menyangka dirimu itu 'wajar' dan 'sudah baik' tetapi gue yakin manusia-manusia seperti itu tidak mungkin pernah menyentuh Alquran sebenar-benar sentuhan. gak mungkin ada seorang manusia produk dari pembelajaran Alquran bersifat setan dan angkuh serta sok hebat!
Semua yang 'dimiliki' manusia hanyalah titipan. kalau mengklaim mata ini adalah punya kita, ingatkah bagaimana cara kita membuatnya? ataukah mata ini ada yang memberikan?? begitu juga dengan telinga. kalau memang telinga ini milik kita, kapankah kita membuatnya?? sanggupkah manusia menciptakan indera-indera sedemikian canggihnya dengan tangannya sendiri?? apakah tangan ini juga milik kita? ataukah ada yang yang 'memberikannya' kepada kita?? itu semua adalah pertanyaan logis yang pasti akan mendapatkan jawaban universal dari setiap diri manusia manapun jua. Semua yang 'kita punya' atau lebih tepatnya segala yang ada pada tubuh kita ini bukanlah milik kita. semuanya milik Sang Pembikin segala sesuatu. Alloh swt. semuanya diberikanNYA kepada kita agar kita bersyukur.. cuma itu. begitu simpelnya. tetapi pada kenyataannya seberapa besar dan konkret rasa syukur kita?? Bagi orang yang berduit pastilah bakal 'ikhlas' membeli organ tubuhnya yang rusak demi mengalami hidup yang normal. Mungkin rumah untuk sebuah bola mata? mobil untuk setengah telinga? pesawat untuk jantungnya? villa untuk sepasang ginjalnya? semuanya rela dia berikan hanya untuk memperoleh kembali kenormalan fungsi inderanya. kalau sudah begitu, terasa sangat mahal juga yak indera-indera yang sedang melekat di tubuh kita ini? apalagi kalau pernah belajar biologi, kita pasti tau kalau tubuh kita ini terdiri dari sel yang terkecil hingga sistem organ... wah...
Pada hal apalagi manusia mau bersyukur?? belum lagi dengan penciptaan alam semesta yang demikian besarnya... sungguh, semua pikiran yang muncul tersebut membuat gue menjadi eneg dengan pemfokusan pikiran kepada hal yang remeh-temeh.. hal yang sering hanya membuat batin capek sendiri, badan kurusan, sakit yang gak perlu dan membunuh sebgaian besar waktu yang seharusnya di lewati dengan penuh rasa syukur..
Memang sangat keren pas manusia disuruh untuk memperhatikan dirinya sendiri agar mampu mengenal Alloh.. Tubuh yang 24 jam bersama kita ini menjadi modal paling dekat agar kita mampu kenal dengan pencipta kita.. gratis! namun kegratisan yang gak semua manusia pinter untuk memanfaatkannya sekalipun profesor dari harvard atau oxford..bukan muslim yang jauh dari Alquran. secerdas apa sih manusia itu hingga untuk mencari Tuhannya saja harus menunggu musim haji?? atau bermil-mil menempuh perjalanan ke dalam gua di pedalaman ujung dunia? atau mendaki gunung terjal di puncak Bromo?? lihat saja diri sendiri! perhatikan, aktifkan hati. matikan nafsu. resapi dan rasakan dengan penuh rasa takjub akan Sang Pencipta yang Maha Besar telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna... maka dengan sendirinya kita akan lebih menghargai diri ini dan makin banyak bersyukur serta melupakan segala hal yang hanya remeh-temeh tentang masalah dunia apapun. cerdaslah manusia!!